Minggu, 26 Januari 2025

Apapun Bisa Terjadi di Ruang Sidang



Pengadilan Anak. Pengadilan untuk pelaku kriminal yang dilakukan anak di bawah umur. Hakim Sim Eun-sok adalah hakim yang ditugaskan di sebuah pengadilan dengan kasus-kasus kriminal anak yang cukup menarik perhatian. Gaya hakimnya yang tegas dan sarkas memang tidak semua orang suka. Tapi memang menjadi hakim sebenarnya hakim ya memang harus begitu kayaknya. 

Di ruang sidang, sang hakim ini bisa menghadapi apa saja. Kebohongan, kesia-siaan, pertengkaran, atau lebih banyak tangisan. Belum lagi pengacara-pengacara yang sombong dan sok tak punya waktu. 

Dari ruang sidang harapan dipupuk adanya rasa jera untuk pelaku kriminal. Tapi tak semuanya sesuai harapan. Lebih mencengangkan lagi ketika pelaku melakukan kriminal lain yang lebih mengerikan daripada sebelumnya karena tiadanya hukuman yang setimpal kala dianggap masih kanak-kanak.

Hakim Sim ternyata adalah hakim yang sudah "mati". Dedikasi hidupnya sepenuhnya untuk pekerjaan, sebelum dulunya dia adalah hakim yang memiliki kehidupan. Bersama suaminya yang seorang jaksa dia memiliki seorang anak. Sayangnya sang anak meninggal tragis karena perilaku dua orang anak yang dianggap tak sengaja melenyapkan nyawa anak sang hakim. Mungkin dari setiap proses sidang yang dia pimpin nampak kebencian itu--kebencian pada pelaku kriminal anak--karenanya dia selalu serius. Namun mungkin dengan cara itulah dia bisa merasakan hidup demi mengurangi sakitnya karena kehilangan seorang anak--yang saat ditunjukkan fotonya--sedang lucu-lucunya. 

Saat Hakim Sim dihadang ketidaksetujuan dengan kata-kata: mengapa dia begitu tegas cenderung kaku, tidak memberikan kesempatan kepada pelaku untuk menjelaskan segala sesuatunya dalam pembelaan, Hakim Sim selalu berkata: kenapa mereka berani-beraninya berbuat kriminal, yang mana bisa saja menghancurkan hidup orang lain. Benar memang. 

Sekali waktu Hakim Sim berkata: "Kita harus mengajari mereka bahwa ketika ada yang menyakiti orang lain, maka orang itu akan dapat konsekuensinya." Dia juga berkata: "Bila keluarga dan sekolah tidak menghukum dan membuat mereka sadar, maka setidaknya pengadilan bisa melakukannya." Ini juga masuk akal. 

Sebenarnya agak kecewa ketika alur di akhir-akhir Juvenile Justice ini mempertemukan kembali hakim pengadilan kasus anak Hakim Sim dengan Hakim Sim. Kesel aja gitu orangnya benar-benar menyebalkan. Namun, memang harus begitu jalannya bahwa seringkali sesuatu tak menyenangkan kembali muncul dalam celah kehidupan, dan dengan cara itu, Hakim Sim serta pihak-pihak lainnya yang merasa pernah dirugikan oleh Hakim Na akhirnya mendapatkan permohonan maaf. 


Sabtu, 27 April 2024

Crazy Rich Asia: Orang Kaya itu Gila

 Bagaimana rasanya dikenalkan kepada keluarga pria yang ternyata kaya raya? 


Rachel Chu tidak tahu apa-apa. Hanya tahu sebagai pacar Nick Young. Dan dia tak tahu menahu tentang Nick Young. Agak membingungkan memang. Sebagai seorang professor, bagaimana bisa dia tidak searching tentang Nick Young yang ternyata orang terkenal di Singapura, negara tempat tinggalnya? Baik, kita katakanlah Rachel tak punya waktu atau memang tak terpikirkan bahwa dia harus mencari tahu tentang Nick, karena keseharian Nick yang biasa saja. Bahkan kalau makan saja Nick biasanya "mencuri" pesanan Rachel. Nah, cukup masuk akal kan ya?

Awalnya tidak ada masalah dalam hubungan Rachel dan Nick. Masalah berat mulai muncul saat Rachel dan Nick diundang ke pesta lajang pasangan sahabat Nick, Collin dan Araminta. Collin sebagai sahabat baik Nick, menanyakan apakah Nick sudah mempersiapkan Rachel untuk "semua"? Sementara jauh di tempat tunangan Collin, Rachel mulai menghadapi masalah yang diakibatkan teman-teman Araminta. Singkatnya, Rachel dibully karena diprasangkai hanya ingin mengambil harta kekayaan Nick. 

Ya, memang. Bisa jadi prasangka itu muncul. Sebab memang gaya hidup orang kaya beda. Beda jauh jauh jauh. Pesta lajang aja diadakan di atas kapal pesiar, memakai baju kurang bahan, mabuk-mabukkan, yang pastinya ada harga yang harus dibayar mahal. Melihat sesi pesta lajang Collin dan Araminta, menunjukkan kalau orang kaya itu memang gila. Gila banget. 

Di sisi lain, ada Astrid yang mati-matian menjaga perasaan suaminya yang juga "orang biasa" agar tak terintimidasi dengan kebiasaan Astrid yang senang berbelanja barang-barang mewah. Tapi apa balasan untuk Astrid? Ternyata dia diselingkuhi. Suaminya yang salah menyangka maksud baik istrinya, merasa tidak dianggap pantas, merasa lelah. 

Kembali ke Rachel Chu, diduga identitas yang digunakan Rachel saat berkenalan dengan orang tua Nick, bohong. Hal ini yang menyebabkan Rachel kabur dari Nick setelah pertengkaran dengan Ah Ma dan ibu Nick. 

Menuju ending, memang paling masuk akal berpisah saja sudah antara Rachel dengan Nick, antara Astrid dengan suaminya. Tapi endingnya terlalu menyebalkan. Masalahnya ini di pesawat, bro. Ini pesawat Singapore, bro yang biasanya tidak menolerir keterlambatan, apalagi menghalangi jalan penumpang untuk duduk. Tapi katakanlah orang kaya kan bisa segalanya alias gila. Jadi endingnya ya lamaran di pesawat, diterima, nikah. 

Iya, begitulah. Sudah. Tamat. 

Oh ya selama nonton film ini, suara pemeran peik lin, enak banget didenger. Lucu. Wkwk


Senin, 18 Maret 2024

Perkara "Dia Cepat Move On"

Ujungnya pacaran itu ada 2 katanya. Menikah atau berpisah. 
Saya setuju sih. Bagaimanapun memang pilihannya hanya dua itu. Perkara setelah menikah jadi berubah tak indah atau semakin indah, atau setelah berpisah tak bisa berteman lagi, ya sudah. Sudah saja. 

Tapi, ternyata tak bisa sudah saja.
Kebanyakan akan menjadi perkara rumit kala berpisah. Semisal menyatakan kami berpisah dan memutuskan berteman, hm itu omong kosong sih. Tak ada yang namanya jalan mulus berteman setelah berpisah. Karena memang kepemilikan tidak legal dan tidak sepenuhnya. Berbeda dengan menikah.

Lebih rumit lagi manakala sang mantan sudah punya gandengan baru. Biasanya akan "ribut". Merasa si dia kok cepat sekali move on. Sementara bisa jadi si dia ingin segera lupa dengan cara menjalin hubungan baru. Gak ada yang salah sih dari dua-duanya. Yang salah hanyalah yang menilai keduanya. Netizen yang selalu merasa maha benar selalu memihak yang "seolah" ditinggalkan, menyalahkan yang "seolah" meninggalkan. Padahal gak ada yang tahu sebenarnya.

Ikut kepikiran saja sih kenapa bisa disimpulkan demikian.
Disimpulkan si A kasihan ditinggal, ditenangkan bahwa dia akan dapat yang lebih baik.
Disimpulkan si B jelek, cepat move on, baru pisah sekian bulan sudah dapat gandengan baru. 
Hm, rasa-rasanya gedek aja gitu.
Tapi ya saya juga tidak maksud memihak salah satu. Saya memihak dua-duanya. Bahwa mungkin yang satu tak terima karena bisa saja "masih cinta, masih sayang, masih ingin ditemani untuk tak move on dengan cepat". Sementara yang satu ingin menutup luka lama, menjalin hubungan baru. 
Iya, kan?
Bisa dipahami kan?
Menurut saya mau jadi pihak ditinggalkan atau meninggalkan, ya sudah. Ikhlas saja. Kan sudah putus. Sudah tak ada hubungan. Kenapa harus jadi permasalahan?

Minggu, 23 Juli 2023

Perkara Pindah Kosan

Bagaimana perasaan setelah pindah kosan?


Tentu saja bersyukur mendapat tempat yang sama baiknya dengan tempat lama. Dengan kamar yang cukup untuk dua orang, kamar mandi di dalam, dapur umum, kulkas umum, jemuran yang aman dari hujan jika ditinggal. Dan paling penting lebih dekat dengan tempat kerja. 

Apakah ada hal yang dikangeni dari tempat lama?

Tentu saja. Selama 5 tahun bertahan di tempat lama banyak hal-hal yang menyenangkan. Salah satunya perjalanan. Bertahan lama pulang-pergi dengan angkot dan jarak jauh itu karena kesukaan terhadap perjalanan. Dapat melihat dunia luar setelah terkurung berjam-jam dalam ruang kelas, dalam lingkup sekolah, merupakan aktivitas yang menyenangkan. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki itu juga kegiatan yang tak kalah menyenangkan.


Lalu, kenapa pindah?

Tentu saja alasan klasiknya karena dalam hidup ini harus mengalah.

Perjalanan akan menyenangkan jika tidak dikejar-kejar pekerjaan. Nah, jika ada pekerjaan yang menunggu? Itu yang membuat otak berpikir keras dan hati gelisah gak sabaran menanti kapan sampai ke tujuan. Pada akhirnya kita harus memilih salah satu. Hal yang menyenangkan atau dedikasi kita pada hal yang semestinya kita kerjakan.

Aku memilih opsi kedua. 



Sabtu, 17 Juni 2023

Dunia Kedua

Pada akhirnya aku menulis ini; dunia keduaku.
Sejak 2 tahun lalu ruangku tak hanya berkelindan dengan keluarga yang sebenarnya keluarga. Aku juga terikat dengan keluarga kedua di lingkungan kerja. Aku punya bundadari juga kakandari yang hebat-hebat. Hebat sebagai pengajar, hebat sebagai teman terbaik, saudara terbaik, juga sebagai ibu terbaik dari anak-anaknya; istri dari suami-suaminya.

Kedua -dari ini yang menjadikan dunia kecilku serasa menyenangkan. Apapun tantangan yang sedang dihadapi tetap tersenyum, ngabodor, namun tetap bisa serius jika waktunya memang harus serius. 

Kedua orang hebat ini, kadang-kadang aku takut menyayangi mereka melebihi batasku sendiri. Kadang-kadang aku takut jika aku melangkah ke dunia luar aku tak bisa nyaman seperti di antara mereka. Kadang aku sangat takut pada diriku sendiri yang akan melemah hanya karena ditinggalkan atau sekadar jauh dari keduanya. Kadang aku berpikir jika saatnya berpisah dengan keduanya, akankah aku mau (mampu) menemukan dunia yang sama? Ataukah aku kembali ke pola lama menjadi penyendiri? Aku tak tahu. Aku kadang tak mau tahu, namun aku berharap aku bisa menahan diri, mengajarkan diri untuk ikhlas dan sabar jika kelak terjadi.

Kedua orang hebat ini, aku tak bisa menggambarkan dengan runtut. Yang pasti keduanya adalah orang-orang yang dikarunia kebaikan oleh-Nya dan semoga selamanya mereka berada dalam selamat, sehat, sentosa. Dunia ataupun akhirat semoga kami bisa tetap dipertemukan untuk saling menguatkan.

Kedua orang hebat ini, semoga selalu berada dalam lindungan-Nya. 

Minggu, 30 April 2023

"Mengapa Memilih Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia?"

 Seseorang bertanya dengan sangat-sangat penasaran. 

"Serius aku tanya, kenapa pilih jurusan Bahasa Indonesia?"

Sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan tapi memang aku tak pernah menjawabnya dengan serius. Bukan karena malas jawab tapi karena aku juga mencoba merenungkan jawaban serius dengan serius. Dan setelah merenung selama beberapa waktu dengan serius ternyata alasanku memilih jurusan ini ternyata melalui perjalanan yang lumayan berliku.

Jadi, gini.

Pada dasarnya aku dihadapkan pada tiga hal: Keinginan ideal, Kelemahan, dan Kesenangan.

Pertama, keinginan ideal. Idealnya tentu saja aku ingin berada di jalur tetap-tidak berubah-menjadi anak IPA absolut. Wkwk. Karena masa-masa terakhir sebagai anak sekolah aku berada di jurusan IPA, maka idealnya melanjutkan di jurusan IPA, kan? Iya, begitu. Maka aku juga memilih jurusan ke-IPA-IPA-an sejak mencoba ikut SNMPTN jalur Undangan. Agak-agak lupa jurusannya. Kalau tidak salah ada pilihan peternakan, farmasi, dan entah apa satu lagi. Semuanya itu pilihan hasil pilih acak dengan rekomendasi guru BK SMA. Lalu semua pilihan ideal itu gagal. Sedih? Iya, agak-agak sedih tapi memang gak paham juga gagalnya gimana. Ya pokoknya gitu. Nah keinginan ideal itu masih muncul di jalur berikutnya SNMPTN Tulis. aku tuliskan jurusan SITH ITB. Namun karena rasa putus asa terhadap keinginan ideal maka jurusan berikutnya yang kupilih adalah jurusan kesenangan. Karena sejak kecil suka baca, kemudian mulai SMA suka nulis dikit-dikit aku pilihlah jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Yang mana yang lolos? Ya Bahasa Indonesia itulah. 

Lalu, kelemahan?

Nah, pas udah lolos jurusan Bahasa, sempat tuh ayah dan kakak nomor 3 yang pinternya luar biasa mengusulkan menunda kuliah dengan tawaran menunggu tes STAN tahun berikutnya. Eh eh eh daku tak sanggup dong. Pertama, aku merasa sudah tua untuk menunggu. Kedua, aku merasa lelah untuk tes lagi. Ketiga, ya kelemahanku adalah gak mau terlalu berpikir berat alias berpusing-pusing ria dengan apa yang dihadapi nanti. Maka jadilah aku memilih kesenangan.

Tak dipungkiri 'kesenangan' ini sempat membuat aku jenuh dan bingung karena menjadi guru bukan keinginan idealku. Entah sejak kapan aku berangan-angan bekerja tanpa terlibat banyak dengan manusia. Menjadi guru tentu akan terlibat banyak dengan orang-orang-orang yang wujudnya entah macam apa saja (dan terbukti di masa sekarang aku harus menghadapi macam-macam watak orang: ada yang manis manja, tantrum, nyebelin, ngeselin, dll.). Dulu aku berpikir ingin bekerja di Badan Bahasa (pernah coba ikut seleksi CPNS tapi karena salah pilih ekspedisi pas kirim berkas seleksi ya gagal). Dulu mikirnya kerja di Badan Bahasa itu face to facenya sama KBBI atau Tesaurus ehehe.  Lalu pernah mikir juga kerja di perpustakaan. Mikirnya urusannya hanya dengan buku-buku saja. Lalu kenapa pilih SITH (yang benar-benar aku pikirkan matang-matang saat akan ikut SNMPTN Tulis) karena aku pikir ini nanti outputnya berhadapan dengan tanaman yang mana aku pikir kesabaran berhadapan sama tanaman lebih gampang dibanding kesabaran menghadapi manusia-manusia. Iya, gitu. Baru saja setelah mengikuti PPL itu menjadi titik balik daku untuk menerima dengan legowo bahwa mau tak mau ya sudah jadi guru saja. 

Setelah jadi guru bahasa, gimana?

Ya, begitu. Masih harus banyak belajar. 

Yang aku syukuri sekarang aku senang berinteraksi dengan anak-anak usia sekolah dasar. 

Sekian jawaban yang bisa aku sampaikan. Terima kasih sudah bertanya. 


Bandung, 30 April 2023

Perkara Julid

Entah kenapa mungkin aku seorang yang suka julid pada tokoh-tokoh film atau serial anime. Julid yang membuat orang lain keki. Wkwk. 

Aku julid terutama pada tokoh-tokoh perempuan menye-menye. Tokoh perempuan yang seringkali membuatku ingin memukulkan kepala ke tembok. Seperti ini contoh-contohnya:

Saat menonton frozen, baik 1 ataupun 2, aku selalu merasa bahwa Anna adalah tokoh yang menyebalkan. Kenapa coba dia harus membuat Elsa kesulitan. Kesulitan karena Anna mengajaknya main seluncur yang berakhir tragedi Anna jatuh karena Elsa terpeleset dan terlambat memberikan jalur esnya. Anna juga bodoh. Sorry ya gimana gak bodoh. Dia dengan mudahnya bilang mau menikah dengan lelaki yang baru dia temui. Oh wow. Kebodohan yang sempurna. Anna juga sok tahu. Merasa tahu segalanya tentang Elsa. Mengatakan ini itu seolah benar. Yang justru membuat Elsa kesal. Aku juga jadi kesal. Wkwk. Belum lagi dia membuat Kristoff kesulitan. Ya intinya seorang Anna ini sangat pandai mneyulitkan orang lain. 

Saat menonton Harry Potter, aku mulai terganggu dengan hadirnya anak bungsu keluarga Weasley. Apalagi saat dia mulai menyimpan rasa pada Harry. Entah kenapa aku merasa Harry mah gadis mana saja dia oke-oke aja. Tapi kehadiran perempuan itu "perempuan yang tak mau kutuliskan namanya di sini" yang mungkin bagi Harry oke-oke aja, bagiku malah nampak seperti jalang (maaf). Ya, bagaimana tidak. Dia terlibat dengan banyak lelaki di Hogwart. Kemudian dia menaruh perasaan pada Harry dan membuat Harry bertekuk lutut padanya. Oh, so .... irritating. Mungkin bagi penonton lain dia itu cantik, manis, perhatian. Bagiku dia jalang (maaf lagi). Ya intinya aku gak suka dia. 

Setiap kali menonton anime Oregairu (yang kemudian kusesali sekarang karena merasa menghabiskan waktu), aku selalu membenci Yui. Dia adalah jalang lain versi anime. Jalang yang setiap kehadiran dia, kata-kata dia di animenya akan membuatku sakit kepala. Terutama kalau sudah keluar kata-kata: Ya halloo.... Auto pengen banting laptop. Ya meski aku juga menyalahkan Hachiman yang susah sekali tegas. Harusnya Hachiman jadi lelaki dingin saja udah. Tapi ya Watari menjadikannya lelaki yang terlalu "lembut" ya begitulah jadinya. Hanya saja, Yui ini memang tak tahu diri. Sudah tahu Hachiman punya pawang, eh seenak udel aja godain Hachiman. Pengen geplak jadinya.

Siapa berikutnya tokoh yang aku benci?

Nanti akan diupdate kalau ingat, hehe. 

Pengadilan Anak. Pengadilan untuk pelaku kriminal yang dilakukan anak di bawah umur. Hakim Sim Eun-sok adalah hakim yang ditugaskan di sebua...