Ujungnya pacaran itu ada 2 katanya. Menikah atau berpisah.
Saya setuju sih. Bagaimanapun memang pilihannya hanya dua itu. Perkara setelah menikah jadi berubah tak indah atau semakin indah, atau setelah berpisah tak bisa berteman lagi, ya sudah. Sudah saja.
Tapi, ternyata tak bisa sudah saja.
Kebanyakan akan menjadi perkara rumit kala berpisah. Semisal menyatakan kami berpisah dan memutuskan berteman, hm itu omong kosong sih. Tak ada yang namanya jalan mulus berteman setelah berpisah. Karena memang kepemilikan tidak legal dan tidak sepenuhnya. Berbeda dengan menikah.
Lebih rumit lagi manakala sang mantan sudah punya gandengan baru. Biasanya akan "ribut". Merasa si dia kok cepat sekali move on. Sementara bisa jadi si dia ingin segera lupa dengan cara menjalin hubungan baru. Gak ada yang salah sih dari dua-duanya. Yang salah hanyalah yang menilai keduanya. Netizen yang selalu merasa maha benar selalu memihak yang "seolah" ditinggalkan, menyalahkan yang "seolah" meninggalkan. Padahal gak ada yang tahu sebenarnya.
Ikut kepikiran saja sih kenapa bisa disimpulkan demikian.
Disimpulkan si A kasihan ditinggal, ditenangkan bahwa dia akan dapat yang lebih baik.
Disimpulkan si B jelek, cepat move on, baru pisah sekian bulan sudah dapat gandengan baru.
Hm, rasa-rasanya gedek aja gitu.
Tapi ya saya juga tidak maksud memihak salah satu. Saya memihak dua-duanya. Bahwa mungkin yang satu tak terima karena bisa saja "masih cinta, masih sayang, masih ingin ditemani untuk tak move on dengan cepat". Sementara yang satu ingin menutup luka lama, menjalin hubungan baru.
Iya, kan?
Bisa dipahami kan?
Menurut saya mau jadi pihak ditinggalkan atau meninggalkan, ya sudah. Ikhlas saja. Kan sudah putus. Sudah tak ada hubungan. Kenapa harus jadi permasalahan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar