Seseorang bertanya dengan sangat-sangat penasaran.
"Serius aku tanya, kenapa pilih jurusan Bahasa Indonesia?"
Sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan tapi memang aku tak pernah menjawabnya dengan serius. Bukan karena malas jawab tapi karena aku juga mencoba merenungkan jawaban serius dengan serius. Dan setelah merenung selama beberapa waktu dengan serius ternyata alasanku memilih jurusan ini ternyata melalui perjalanan yang lumayan berliku.
Jadi, gini.
Pada dasarnya aku dihadapkan pada tiga hal: Keinginan ideal, Kelemahan, dan Kesenangan.
Pertama, keinginan ideal. Idealnya tentu saja aku ingin berada di jalur tetap-tidak berubah-menjadi anak IPA absolut. Wkwk. Karena masa-masa terakhir sebagai anak sekolah aku berada di jurusan IPA, maka idealnya melanjutkan di jurusan IPA, kan? Iya, begitu. Maka aku juga memilih jurusan ke-IPA-IPA-an sejak mencoba ikut SNMPTN jalur Undangan. Agak-agak lupa jurusannya. Kalau tidak salah ada pilihan peternakan, farmasi, dan entah apa satu lagi. Semuanya itu pilihan hasil pilih acak dengan rekomendasi guru BK SMA. Lalu semua pilihan ideal itu gagal. Sedih? Iya, agak-agak sedih tapi memang gak paham juga gagalnya gimana. Ya pokoknya gitu. Nah keinginan ideal itu masih muncul di jalur berikutnya SNMPTN Tulis. aku tuliskan jurusan SITH ITB. Namun karena rasa putus asa terhadap keinginan ideal maka jurusan berikutnya yang kupilih adalah jurusan kesenangan. Karena sejak kecil suka baca, kemudian mulai SMA suka nulis dikit-dikit aku pilihlah jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Yang mana yang lolos? Ya Bahasa Indonesia itulah.
Lalu, kelemahan?
Nah, pas udah lolos jurusan Bahasa, sempat tuh ayah dan kakak nomor 3 yang pinternya luar biasa mengusulkan menunda kuliah dengan tawaran menunggu tes STAN tahun berikutnya. Eh eh eh daku tak sanggup dong. Pertama, aku merasa sudah tua untuk menunggu. Kedua, aku merasa lelah untuk tes lagi. Ketiga, ya kelemahanku adalah gak mau terlalu berpikir berat alias berpusing-pusing ria dengan apa yang dihadapi nanti. Maka jadilah aku memilih kesenangan.
Tak dipungkiri 'kesenangan' ini sempat membuat aku jenuh dan bingung karena menjadi guru bukan keinginan idealku. Entah sejak kapan aku berangan-angan bekerja tanpa terlibat banyak dengan manusia. Menjadi guru tentu akan terlibat banyak dengan orang-orang-orang yang wujudnya entah macam apa saja (dan terbukti di masa sekarang aku harus menghadapi macam-macam watak orang: ada yang manis manja, tantrum, nyebelin, ngeselin, dll.). Dulu aku berpikir ingin bekerja di Badan Bahasa (pernah coba ikut seleksi CPNS tapi karena salah pilih ekspedisi pas kirim berkas seleksi ya gagal). Dulu mikirnya kerja di Badan Bahasa itu face to facenya sama KBBI atau Tesaurus ehehe. Lalu pernah mikir juga kerja di perpustakaan. Mikirnya urusannya hanya dengan buku-buku saja. Lalu kenapa pilih SITH (yang benar-benar aku pikirkan matang-matang saat akan ikut SNMPTN Tulis) karena aku pikir ini nanti outputnya berhadapan dengan tanaman yang mana aku pikir kesabaran berhadapan sama tanaman lebih gampang dibanding kesabaran menghadapi manusia-manusia. Iya, gitu. Baru saja setelah mengikuti PPL itu menjadi titik balik daku untuk menerima dengan legowo bahwa mau tak mau ya sudah jadi guru saja.
Setelah jadi guru bahasa, gimana?
Ya, begitu. Masih harus banyak belajar.
Yang aku syukuri sekarang aku senang berinteraksi dengan anak-anak usia sekolah dasar.
Sekian jawaban yang bisa aku sampaikan. Terima kasih sudah bertanya.
Bandung, 30 April 2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar