Nanti
Nanti? Iya, nanti. Nanti apa? Nantikanku di batas waktu? Mm, bukan. Nanti, ya nanti. Nanti aja kalau sempat kita bahas ya.
Nanti.
Kuberitahu kamu, kamu, dan kalian semua. Hati-hati dengan nanti. Berhati-hatilah dengan kata ini. Mengapa? Karena ini adalah kata yang berbahaya. Serius. Kata ini sangat-sangat berbahaya. Sebab yang dinanti-nanti bisa jadi terbelangkalai bahkan bisa jadi sampai tak berarti.
Sebagai sebuah contoh, aku harus bangun pagi. Lalu, aku katakan pada diriku: nanti, sebentar lagi. Apa yang terjadi? Boom ...., matahari bangun mendahului, sementara aku masih di alam mimpi.
Itu baru bahaya pertama. Contoh kedua, aku harus mengerjakan ini. Lalu, aku katakan pada diriku: nanti, sebentar lagi. Apa yang terjadi? Door ...., aku menghabiskan jam demi jam yang pergi sementara aku tenggelam main game atau menggunakan jariku yang tiada henti menggulir layar mini mencari-cari yang sebenarnya tak penting dicari. Bahaya, kan?
Maka, hati-hatilah dengan sihir kata ini. Hanya dengan satu kata menyebalkan ini, semua yang seharusnya terjadwal jadi ambyar. Semua yang seharusnya dikerjakan jadi terabaikan. Yang tadinya mau jadi pengantin, malah jadi tamu undangan #eh
Iya, bener sih. Bisa jadi kalau kamu niatnya melamar, terus bilang nanti bisa jadi orang itu diduluin dilamar orang. Haha. Maaf melantur. Hanya menegaskan kalau kata "nanti" bisa jadi boomerang.
Jadi, alangkah bijak jika mulai membiasakan diri mengatakan: lakukan sekarang, sekarang, sekarang.
Iya, sekarang!
Loh, kok jadi ngegas sih?
Enggak, bukan ngegas hanya sedang menyugesti diri sendiri supaya tidak lagi malas. Tidak lagi menunda. Tidak lagi terlalu toleran dengan rebahan. Hehe. Iya, begitu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar