Sabtu, 30 Januari 2021

I



Insecure


Insecure. tidak aman.

Ada yang sedang merasa insecure saat ini? Kalau iya, sama denganku. Jadi, mari kita menarik napas bersama, mengembuskannya pelan-pelan, tutup mata kita sejenak, katakan: aku diciptakan bukan untuk kesia-siaan. 


Insecure.

Kata ini sedang senang-senangnya wara-wiri di pikiran. Nampak begitu nyata di setiap kali aku mengedipkan mata. Menghantui hati, merajai hari, menimbulkan was-was dan ketidakpercayaan diri.


Berawal dari sebuah hari, ketika aku menemukan seseorang yang memiposting pencapaian dirinya. Postingan yang menggugah karena kekonsistenannya dalam melakukan sesuatu. Saat melihat dan bahkan mencermati postingan itu, sungguh aku benar-benar bersyukur, mengucapkan selamat, karena dia berada pada posisi puncak setelah pendakiannya yang begitu panjang, di masa lampau. Tapi, sejenak kemudian entah kenapa merayap ke dalam dada sebuah pertanyaan yang menusuk demikian sakitnya: aku ke mana aja? aku sudah sampai mana? aku mengapa masih tertahan di belakang? Dan tanpa bisa dicegah, aku pun mulai terjebak dalam ketakutanku sendiri; membandingkan aku dengan orang-orang yang sudah mencapai kelayakannya. Tiba-tiba saja aku merasa insecure. 


Haha. Inginnya aku tertawa. Menertawakan diriku yang selalu memotivasi diri bahwa aku hanya boleh membandingkan aku dengan diriku sendiri. Membandingkan aku hari ini dengan hari yang lalu. Sekian lama, sejak aku mengenal kecewa, aku selalu mewanti-wanti bahwa aku melarang diriku untuk membandingkan diriku dengan pencapaian orang lain. Apapun itu, kapanpun itu, di mana pun itu. Tapi hari ini, ambyar. Aku terjebak pada kecemasanku sendiri. Pada ketakutan yang nyata.


Ah, mari menarik napas lagi. Mari kita katakan: aku diciptakan bukan untuk kesia-siaan. Ayo, katakan lagi. Katakan lagi. Embuskan napas pelan-pelan. Lalu lepaskan semApalahua takut dan ngcemas.


Oke, lanjut.

Eh, hehe, aku lanjut teralihkan kembali pada insecure. Merasa tak berguna, merasa belum melakukan apa-apa. Hanya dalam waktu sepersekian detik aku mengingat kembali mimpi lama, yang terkuak melukai setiap sisi percaya diri yang tersisa entah berapa digit lagi. Haha. 


Mimpi apa?

Eh, sebentar kenapa kamu bertanya? Padahal aku baru saja ingin melewatkan bagian itu. Tapi, baiklah. Tak apa. Jadi, begini. Dulu, aku adalah manusia yang sangat suka membaca. Sejak masuk SD kebiasaanku adalah berlama-lama di perpustakaan, melahap buku apapun yang kutemukan. Sampai SMP pun begitu. SMA ya, masih adalah kebiasaanku itu. Kebiasaan membaca yang menyenangkan itu mendorong diriku bermimpi suatu hari menjadi penulis. Penulis yang tulisannya tidak hanya dibaca diriku, tapi dibaca khalayak ramai. Masuk kuliah rasa-rasanya impian itu semakin bisa diwujudkan kurasa. Aku mulai lebih sering menulis. Puisi, terutama. Teman sebelah kanan dan kiri yang juga lebih pro dalam kegiatan menulis memacu diriku untuk bisa lebih serius. Apalagi kami memang berada pada jurusan yang mendukung untuk melakukan hobi itu. 


Lalu, aku lulus. Wisuda. Wis-udah. Kegiatan tulis-menulisku pun mendekati titik lelah. Aku masih aktif menulis setahun setelahnya. Kemudian, karena lingkungan kanan kiriku tak lagi tentang menulis, aku pun tak lagi di sana. Aku beralih ke kegiatan lain. Kegiatan lain. Kegiatan lain. Sampai suatu hari aku merasa aku lupa caraku menulis. Aku lupa-melupakan mimpi yang pernah sangat merajai kepalaku. Kini, menulis adalah sesuatu yang entah-lah. Mimpiku menuju kandas.


Lalu, apa hubungannya dengan insecure?

Ya, itu dia. Sebab aku terhenti, dan seseorang yang lain tetap konsisten di jalan itu. Aku merasa aku tak berarti. Aku merasa telah membiarkan diriku terlalu lama dalam mimpi dengan arti sebenarnya. Tertidur lama, sangat lama, menenggelamkan diriku dalam kebekuan yang nyata. Aku menjadi manusia pasif.

Ketika aku melihat ke belakang, aku melihat dengan jelas penampakan diriku yang mengganggu. 

Aku.

Rebahan.

Setiap ada kesempatan.

Haha. Iya, aku sudah terkena sindrom rebahan. Aku masih baca, tapi membacaku hanya untuk hiburan semata. Bukan untuk membuat otakku bekerja. Aku masih baca, tapi aku membaca sosial media, menghabiskan waktuku untuk menggulir detik dan dentang. Aku masih baca, tapi aku sesungguhnya malas luar biasa. Aku memfasilitasi kemalasanku untuk menonton, main game, rebahan, rebahan, dan rebahan. Haha.


Ya, begitulah kisah insecure yang menggalau-riakan diriku. Tapi, aku coba tarik napas lagi, embuskan pelan-pelan lagi.

Aku masih aku. Aku tak sia-sia.

Aku sudah melakukan banyak hal: aku mengajar, aku membuat soal ujian, aku bisa mengoperasikan zoom, aku tepat waktu mengisi link kehadiran, mengisi agenda pembelajaran, aku bisa bangun pagi, aku bisa lebih enjoy saat membuat power point, aku masih aku dengan segala hal yang bisa aku usahakan.


Oke. Oke. Oke. Mari kita kemas insecure ini dengan wadah terbaik, kita bekukan di kulkas.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengadilan Anak. Pengadilan untuk pelaku kriminal yang dilakukan anak di bawah umur. Hakim Sim Eun-sok adalah hakim yang ditugaskan di sebua...