Senin, 11 Oktober 2021

Sebuah Asumsi

Sore ini seseorang menanggapi status WhatsApp saya tentang salah satu aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan. Dia mengungkapkan rasa bahagianya karena melihat saya menikmati bekerja. Setidaknya itu yang dia lihat dari kenampakan saya (alam kali ah kenampakan, haha).

Saya menyetujui apa yang dia ungkapkan. Sejujurnya memang saya menyukai pekerjaan yang saya lakukan sekarang. Saya merasa mampu berdedikasi sepenuhnya terhadap pekerjaan karena saya rasa ini hal yang menyenangkan. Melakukan beberapa hal, banyak hal, meski kadang-kadang tentu saja ada titik jenuh di antaranya. 

Sejujurnya kecenderungan "menikmati" bekerja sudah pernah diungkapkan seseorang di masa-masa awal saya bekerja di tempat lain. Kendati pekerjaan yang dimaksud masih serupa. Tapi saya tak menyangkal bahwa itu bukan hanya asumsi semata. Saya memang tipe orang yang seperti itu. Bahkan ada juga orang yang memandang saya "terlalu setia" manakala saya mengungkapkan ketidakrelaan saya meninggalkan pekerjaan untuk sesuatu yang lain.

Kadang saya bertanya-tanya apakah seseorang itu memang harusnya bekerja? Ataukah mestinya bersenang-senang? Tapi saya tak menemukan jawaban yang baku. Karena sering beberapa kali saya merasa libur justru membuat saya kebingungan. Bekerja adalah salah satu aktivitas yang membuat saya produktif. Dan tentunya saya menyukai diri yang produktif. Diri yang bisa berkembang dan memberikan dampak positif pada lingkungan. 

Kadang memang membingungkan. Kadang saya berharap libur sejenak dari tumpukan pekerjaan. Tapi saat libur, justru saya mencari-cari pekerjaan yang bisa dikerjakan. Atau juga karena overthinking saya yang masih tak terkendali, kadang saya memanfaatkan libur untuk mempersiapkan masa-masa hari efektif agar persiapan lebih matang. 

Sejujurnya banyak hal kenapa saya bisa betah bekerja bahkan melebihi jam yang seharusnya. Pertama, karena saya merasa tak ada hal lain yang bisa saya kerjakan. Kedua, karena saya ingin menyelesaikan banyak hal dalam satu waktu, meski sesungguhnya hanya sedikit yang berhasil dengan baik. Ketiga, kadang saya memang sengaja menenggelamkan diri dalam pekerjaan dalam rangka melarikan diri dari kedamaian dunia yang kadang tak kunjung datang. Setidaknya dengan bekerja ada hal yang selesai meski peperangan dunia berlanjut. Keempat, kadang saya tak menemukan alasan lain kecuali memang saya sedang diserang kemalasan yang benar-benar nyata. Kemalasan yang biasanya membuat saya rebahan tak berkesudahan. Kelima, saya memang merasa senang saja. Ya begitulah. Setidaknya begitulah yang bisa saya tulis. Tulisan singkat di antara kekosongan waktu yang pernah ada sebab lama tak update blog ini. Hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengadilan Anak. Pengadilan untuk pelaku kriminal yang dilakukan anak di bawah umur. Hakim Sim Eun-sok adalah hakim yang ditugaskan di sebua...