Senin, 03 Mei 2021

Francisca Todi

Jadi, beberapa tahun lalu saya beli novel cover merah dengan ilustrasi semacam detektif tapi bawa spatula. Buku yang terpendam begitu lama karena saya kebingungan membacanya bahkan di halaman awal. Lalu, waktu untuk membaca semakin sempit karena dihadapkan dengan banyak pekerjaan akhirnya buku tersebut tersimpan begitu saja. 

Tahun ini, ketika saya kembali menekuri buku merah ini, saya baru benar-benar membaca judul bukunya; Mission D'Amour. Lalu pelan-pelan saya melanjutkan ke halaman berikutnya, membaca bagian demi bagian sampai akhirnya saya terhanyut baca. Semakin lama semakin menarik. Awalnya saya mengira saya salah beli buku. Kisahnya yang mengangkat tema kerajaan saya kira akan membosankan. Tetapi ternyata tidak begitu. Ini memang kisah kerajaan. Tapi ini adalah kerajaan modern. Semakin lama, semakin saya baca saya semakin tertarik pada tokoh utama Tara yang menurut saya begitu menggemaskan apalagi kalau dia sudah berperang dengan kecamuk pikirannya. Interaksinya dengan Sebastian juga membuat saya tak sabar untuk terus melanjutkan bab demi bab. Oh, ya saya juga suka tokoh dan karakter Putri Viola yang tak semena-mena. Putri yang tak pelit untuk memuji Tara, selalu percaya kepada Tara, dan bahkan mau turun tangan membela Tara saat Tara dalam kesulitan. Memang sebagaimana pada umumnya tidak gampang hidup di istana; baik sebagai penguasa maupun hanya sebagai pekerja. Dan ngomong-ngomong Tara adalah asisten pribadi Putri Viola. Dia baru bekerja setahun beberapa bulan, tapi sepertinya Putri Viola sangat nyaman dengan Tara. 

Melalui kisah Mission D'Amour saya membenci tokoh Danni yang seenaknya. Ya, meski dia sahabat Tara dan penyelamat Tara di masa lalu, saya satu pemikiran dengan Bas yang mempertanyakan kombinasi sahabat macam apakah antara Tara dan Danni; mengingat Danni seringkali sembarangan dan menjadi pemicu timbulnya masalah. Sementara pada Bastian, tentu saja saya menyukai karakternya yang tenang ketika menjalankan misi untuk menyelidiki Tara the Terror. Bastian nampak terkendali terutama dalam emosi dan tindak tanduknya. Hal menggemaskan dari Bastian adalah ketika hatinya berbelok mulai menyukai Tara yang menurutnya lebih cocok jadi istri idela dibanding teroris. Di sini saya ngakak dan mengakui bahwa ini adalah novel keren. 

Akhirnya setelah bertahun-tahun berlalu di masa pandemi covid-19 inilah buku Mission D'Amour berhasil diselesaikan. Ada dua hal yang membuat saya berkaca-kaca; saat Tara menyangka Bastian menasihatinya karena dia akan segera dipecat; kedua, saat Tara akhirnya merasa dikhianati Bastian; mengingat di bab menjelang akhir Bastian menunjukkan jati diri aslinya sebagai agen BIA. Dan setelah berakhir kisah novel ini dengan manis, meski inginnya lebih manis lagi, haha, saya baru menyadari nama penulisnya. Oh, ini Francisca Todi. Nama yang asing sih. Benar-benar ini karya pertama yang saya baca. Iseng-iseng buka ipusnas dan search nama dia, ternyata dia memiliki karya lain, di antaranya ada karya serupa berjudul The Princess dan The Bodyguard yang masih menyinggung tentang Kerajaan Alerva. Tapi karena ipusnas sedang maintenance, jadilah saya belum bisa meminjam bukunya. Hehe.

Jadi, begitulah. Akhirnya di tengah pandemi yang masih saja belum usai, saya menemukan penulis yang baru saya kenal: Francisca Todi. Saya berpikir nama penulis ini adalah seorang perempuan. Apakah saya benar?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengadilan Anak. Pengadilan untuk pelaku kriminal yang dilakukan anak di bawah umur. Hakim Sim Eun-sok adalah hakim yang ditugaskan di sebua...