Sabtu, 20 Februari 2021

U

U1 - Ultraman

Siapa yang masa kecilnya suka menonton ultraman? Ultraman versi mana yang kamu sukai? Saya sendiri dulu masa-masa SMP suka menonton ultraman mebius setiap minggu pagi di Indosiar. Menurut saya, ultraman adalah satu tontonan terbaik dari sekian tontonan anak-anak yang tak bisa dilewatkan. Cerita kepahlawanan yang ditonjolkan, bagaimana ultraman selalu membantu manusia dari musuh-musuh jahat luar angkasa. Sebenarnya adakah musuh manusia yang berasal dari luar angkasa? Katakanlah ada. Imajinasi bisa mewujudkan itu. Yang saya suka dari tokoh ultraman mebius --ultraman yang berubah kembali menjadi manusia saat tidak bertugas-- adalah kerendahan hatinya yang menyembunyikan identitas diri sebagai ultraman. Sepanjang episode yang saya tonton Mirai Hibino --nama samaran Mebius-- yang tergabung dengan Crew Guys --Guard for Utility Situation-- tidak pernah sekalipun ketahuan identitasnya. Menurut sumber dari Wikipedia Indonesia, Mebius menyamar menggunakan wajah manusia yang pernah dia temui namun gagal dia selamatkan.


U2 - Ungu

Ungu apa sih ini yang akan dibahas? Ungu Band. Masih di masa-masa SMP, saya sangat mengandrungi Aa Pasha, haha. Tentu saja yang saya sukai lebih ke lagu-lagu yang dibawakannya. Masa-masa SMP dipikir-pikir ternyata masa labil remaja. Saya juga mengalami masa-masa itu ternyata. Haha. 

Banyak lagu dari Ungu Band yang saya sukai semasa itu. Ada Demi Waktu, Sejauh Mungkin, Aku Bukan Pilihan Hatimu, Cinta Dalam Hati, Cinta yang Lain (bareng Chrisye), Jika Itu yang Terbaik, Luka Di Sini, sampai lagu bareng Adel berjudul Penghujung Cintaku. Saya juga masih ingat lagu-lagu religi yang mereka bawakan khusus edisi Ramadhan, hehe. Biasanya memang setiap band akan menelurkan beberapa lagu religi. Ada Surgamu, Dengan Nafasmu, Para Pencarimu, Dia Maha Sempurna, dan lagu religi paling favorit sekaligus paling membuat merinding Andai Ku Tahu. 

Untuk mendengarkan lagu-lagu Ungu di masa itu saya selalu mendengarkan radio. Radio beneran radio, radio di ponsel, atau di televisi sesekali. Khusus radio, pada masa itu ada stasiun radio yang secara khusus memperdengarkan lagu-lagu Ungu setiap Rabu malam jam 20.00-22.00. Saya hampir selalu menyimak siarannya setiap minggu. Sampai-sampai ada masanya saya menuliskan lirik lagu mereka, juga sesekali kirim SMS ke stasiun radio request lagu. Haha. Selain itu, keseharian saya tiba-tiba saja sangat suka dengan warna ungu. Jaket ungu, tas ungu, bahkan sandal juga ungu. Masa labil ternyata bisa sampai segitunya.


U3 - Undangan

Sudah berapa undangan yang kamu terima sepanjang hidupmu? Saya? Banyak! Tak terhitung. Semenjak masuk SMA undangan mulai bertebaran dari teman semasa SD dan SMP. Undangan yang benar-benar saya baca, sekilas dibaca, atau sama sekali tidak dibaca, hanya sekadar dilihat tanggal kapannya saja. 

Semakin tua usia, undangan semakin bertebaran tak terduga. Sayang sekali saya tidak rajin menumpuk semua undangan menjadi satu. Siapa tahu bisa menjadi menara. Semakin banyak undangan, semakin selektif, mana yang perlu sangat dihadiri, atau hanya perlu dititipi (titip amplopnya saja). Jujur, memang saya tidak terlalu suka datang ke acara kondangan. Banyak hal yang harus saya pikirkan jika saya datang ke suatu kondangan. Mulai dari kapan acaranya. Apakah bertabrakan dengan acara yang ada atau tidak? Apakah saya bisa menemukan alamatnya? Apakah ada teman yang bisa diajak? Apakah saya punya uang untuk membeli kado? Haha. Lalu ada pertanyaan berikutnya, apakah saya bisa hadir dengan kapasitas saya sebagai manusia seutuhnya? Seringkali saya bingung harus pakai baju apa, harus memilih kado apa, apalagi kalau kado tidak sesuai budget yang ada. Kadang saya juga bingung kenapa di kalangan milenial, budaya memberi amplop sepertinya semakin terkikis alias langka. Kalangan milenial, saat ada temannya yang hendak menikah pasti memikirkan kado. Sementara saya sendiri bingung kado apa yang harus dibeli untuk kebutuhan penting orang yang menikah. Ujung-ujungnya saya biasanya memilih kado yang sama untuk setiap teman yang menikah berdekatan waktunya. Haha. Sejauh ini pilihan saya selalu jatuh pada panci. Menurut saya, panci adalah simbol kepraktisan hidup. Bisa memasak air, memasak mi, memasak soto, memasak agar-agar, atau merebus bakso mawar. Cukup hanya dengan satu panci, kan? Panci adalah pilihan kado terbaik haha. Tentunya panci dengan telinga yang cantik dan tahan panas bisa menjadi pilihan untuk menambah kepraktisan si pemakai sehingga tak perlu cari-cari lap untuk mengangkat panci dari atas kompor. 

Pilihan lainnya adalah termos listrik. Karena konsep hidup itu harus praktis, maka termos listrik bisa menjadi pilihan. Mau minum air hangat dengan cepat? Tinggal colok saja termos ke listrik. Praktis kan?

Kado lainnya sebenarnya saya seringkali membelikan seprai saja. Haha. Kenapa? Karena saya punya masalah berat dengan yang namanya membungkus kado. Jadinya kalau semisal kado yang susah dibungkus itu akan segera teranulir dari pilihan saya. Seprai kan gampang. Tinggal dibungkus kertas kado saja tanpa perlu dibongkar pasang lagi. 

Pilihan lain yang lainnya lagi, saya masih berpikir memberi uang yang layak dalam amplop lebih baik daripada kado barang. Karena uang akan bisa dimanfaatkan secara lebih baik oleh si penerima kado. tentunya mereka lebih tahu kebutuhan apa yang harus mereka beli. Memang sih, kebanyakan orang yang saya tanya akan menjawab uang terlalu terlihat nominalnya. Si biru ya nominalnya sekian, si merah ya nominalnya sekian, apalagi si hijau nominalnya sekian. Alasan yang masih menjadi pertanyaan sih. Ya, pada intinya undangan kadang-kadang membuat saya tertekan dan bimbang. 



*gambar hanya pemanis buatan

U4 - Usia

Berapa usiamu? Pernah enggak ditanya begitu secara langsung? Saya pernah dan sering. Dan saya tidak terlalu nyaman ditanya begitu. Kenapa? Karena memang saya memiliki masalah khusus dengannya. Haha.

Jadi, begini. Saya lahir di akhir tahun 1992. Karena saya lahir di akhir tahun, orang tua saya menyekolahkan saja di tahun 2000. Yap, usia 8 tahun Usia yang terlambat untuk memulai sekolah, menurut hitungan orang-orang pada umunya. Mengapa saya disekolahkan pada usia yang demikian? Banyak alasan. Pertama, saya dan orang tua tinggal di kaki bukit. Jarak rumah ke sekolah adalah 1,5 km kurang lebih. Karena itu sebelum sekolah saya dipastikan berani terlebih dulu untuk berangkat dan pergi sendiri. Hal ini dimaksudkan supaya tidak perlu diantar-jemput mengingat kedua orang tua saya sibuk di sawah. Karena itu usia 8 tahun dirasa sudah menjadi usia yang matang untuk bisa sekolah secara mandiri. Kedua, karena orang tua memiliki pengalaman buruk dengan anak pertama mereka yang disekolahkan pada usia masih muda. Anak pertama orang tua saya tidak bisa mandiri di sekolah, belum bisa berangkat-pulang sendiri sehingga cukup merepotkan bagi mereka. Belajar dari pengalaman itu, begitulah saya disekolahkan. Ketiga, sebelum masuk sekolah dipastikan saya bisa membaca dulu. Seingat saya, saya memang sudah bisa membaca saat masuk SD kelas 1. Tentunya karena usia saya sudah 'tua'. Saya belajar baca dari buku-buku entah didampingi siapa (kurang ingat), dari bungkus-bungkus makanan, dari sepotong koran, dan sumber lainnya. Itulah sebabnya saya mencintai buku-buku sampai sekarang, karena kebiasaan membaca sejak kecil. 

Kembali ke masa kini, sejak SMP saat teman-teman melihat tahun kelahiran saya mereka selalu heboh. Begitupun saat SMA. Ada yang menyangka saya sempat tidak naik kelas, prasangka yang membuat saya tersinggung sih. Tapi, bagaimana lagi. Memang saya di antara teman-teman seangkatan lebih tua 2 tahun. Rata-rata teman satu angkatan lahir pada tahun 1994. Tapi ya harus saya terima kan, ya? Lucunya di masa kuliah, saya panggil "Teteh" ke kating karena memang perbedaan tahun masuk. Manakala di antara mereka tahu saya lahir lebih dulu, mereka jadi heboh. Bingung karena harus manggil apa pada diriku ini. Hm, cukup menjadi problemo. Haha. Bagaimanapun saya mencoba untuk tidak terlalu overthinking, meski selalu saja ada pemicunya. Misal saat ada pertanyaan, 'belum nikah?' Lalu mereka semakin heran karena usia teman-teman yang 2-3 tahun di bawahku sudah beranak pinak. Jadi saya jawab pertanyaan mereka dengan senyum sajaaaaaaaa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengadilan Anak. Pengadilan untuk pelaku kriminal yang dilakukan anak di bawah umur. Hakim Sim Eun-sok adalah hakim yang ditugaskan di sebua...