Kamis, 04 Februari 2021

E


Editor

Editor; orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya; pengedit; penyunting. [kbbi daring]

Editor.

Semasa kuliah, saya berpikir menjadi editor adalah pekerjaan yang menyenangkan. Menyenangkan karena pekerjaan ini berkaitan dengan kesukaan membaca. Saya berpikir dengan menjadi editor kita menjadi pembaca buku baru, cerita baru, novel baru, dan sejenisnya tanpa perlu membeli bukunya. Saya berpikir justru kita bisa menghasilkan rupiah dari hasil mengedit atau menyunting bacaan. Saya membayangkan menjadi editor adalah menjadi seseorang yang tidak perlu mengungkap diri ke publik. Saya berpikir bahwa editor adalah seseorang yang bisa menyelinapkan diri di balik layar untuk kesuksesan sebuah karya. Saya berpikir demikian karena saya sangat mneyukai ide bekerja di balik layar. 

Semasa hidup saya, saya selalu merasa ketakutan, kecemasan, bahkan cenderung overthinking jika harus berhadapan dengan banyak orang, harus tampil di depan khalayak, atau jika harus banyak berinteraksi dengan orang. Oleh karenanya, sejak SD saya lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan dengan banyak buku dan sedikit orang, di kamar yang hanya ada diri saya seorang, atau saat di tempat publik saya menyengaja membawa buku, novel, kumpulan puisi, atau apapun itu yang bisa membuat saya sibuk dengan membaca. 

Semasa kuliah keinginan menjadi seorang editor semakin menguat demi melihat banyaknya karya-karya luar biasa yang semakin bertebaran. Ditambah adanya interaksi dengan beberapa teman yang memiliki kesukaan menulis. Beberapa kali saya dimintai pendapat dan tentunya saran untuk sebuah tulisan. Saya berpikir tentunya menjadi editor adalah kegiatan menyenangkan karena kita akan lebih intim dengan kata demi kata di kamus yang semakin hari semakin menumpuk kata-kata yang tidak banyak diketahui umum. Hal yang akan memungkinkan saya untuk lebih menggali kesempatan membaca lebih banyak, mencari tahu lebih banyak.

Iya, editor. 

Editor.

Editor.

Dan setelah masa kuliah berakhir, wisuda sudah dijalani, hari-hari saya berlayar menjadi seorang pengajar. Impian menjadi editor di masa lalu benar-benar menjadi impian semata. Ketika saya pikir-pikir ternyata saya tidak memiliki ambisi yang kuat untuk mewujudkannya. Selain hasrat menulis yang mulai memudar di masa akhir kuliah (hingga sekarang, bahkan). Kesukaan membaca yang dulu sangat menggebu-gebu kini hanya nampak abu-abu. Jika dulu saya membaca apapun: buku, koran, berita yang berjalan di bawah acara televisi, novel, dan semua jenis tulisan yang bisa terbaca, kini entah. Magnet rebahan rupanya lebih menguat. Saya memilih membaca novel-novel tertentu; yang diminati saja. Itupun di antara ruang-ruang waktu yang benar-benar bisa dihitung. Bahkan buku-buku yang dibeli karena ego masih saja menumpuk tanpa dituntaskan. Menyedihkan memang.

Kabar menulis? Itu lebih parah lagi. Ketika saya menyempatkan membuka file-file folder di laptop yang menyimpan beberapa arsip masa-masa menulis, saya kadang bertanya-tanya benarkah saya pernah ada di masa itu? Masa mampu menuangkan ide pikiran melalui huruf-huruf di keyboard? Seringkali ketika membaca beberapa file yang masih tersimpan di sana, saya berpikir benarkah saya pernah memiliki kebiasaan menulis? Sebab di masa kini, saya merasa kemampuan itu memudar bahkan cenderung menghilang. Ketika akan memulai menulis sesuatu, saya cenderung kebingungan, mengalami kebuntuan, dan kemudian stuck. Setelah itu, end. Tutup laptop. Arrrrgggghhhh.

Ya, begitulah saya di masa kini. 

Kemampuan membaca saya nyatanya hanya sebatas membaca. Tidak ada keinginan berpikir lebih. Bahkan jika dulu saya bisa membaca cukup sekali waktu, kini saya harus mengulang dua-tiga kali untuk memastikan bahwa saya tidak salah paham.

Kemampuan menulis dulu yang sering menelurkan beberapa puisi, sedikit cerpen, dan novel yang tidak jadi, haha, kini yang saya punya saat ini adalah kemampuan menulis soal-soal saja. Menulis soal untuk review test, final test, atau sebatas soal latihan di Quizizz. Itupun masih harus dikembangkan di sana sini, perbaikan di setiap kali usai mengadakan tes.

Ya, sebagai manusia biasa, kadang saya kecewa pada diri sendiri. Terutama jika menyangkut menulis, saya punya ruang kekecewaan sendiri. Kecewa karena apa yang pernah diusahakan di masa lalu nyatanya tidak bisa saya pertahankan. Tapi, ya sudahlah. Saya harus fokus dengan hal-hal yang bisa saya lakukan. Hal-hal yang bermanfaat tentunya. Terlebih dari itu, saya harus lebih sering memotivasi diri: bahwa saya diciptakan bukan untuk kesia-siaan.

Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengadilan Anak. Pengadilan untuk pelaku kriminal yang dilakukan anak di bawah umur. Hakim Sim Eun-sok adalah hakim yang ditugaskan di sebua...