Kamis, 04 Februari 2021

B

Buku

Buku adalah salah satu benda favorit saya. Rasanya menyenangkan memiliki buku, berinteraksi dengan buku, membaca buku, menumpuk buku, merapikan buku, membeli buku (meski masih harus tahan nafsu karena budget yang kadang masih nana nunu). Intinya saya suka buku. Haha.

Buku

Keakraban saya dengan buku sudah dimulai sejak SD. Saya bisa membaca beberapa buku dalam hitungan hari, saya bisa merelakan waktu berjam-jam hanya untuk menuntaskan isi bacaan sebuah buku. Semasa SD masih ada sebuah judul buku yang bisa saya ingat sampai sekarang, yakni Patung Parno. Sebuah cerita yang menyenangkan dan menyimpan kesan mendalam. Perjuangan siswa bernama Parno yang tidak pernah berhenti berusaha terutama tentang bagaimana keseriusannya membuat patung untuk mengikuti sebuah perlombaan. Tentu saja sebagaimana cerita pada umumnya, usahanya mendapat rintangan. Salah satunya dari temannya sendiri yang merasa iri karena Parno dan patungnya terpilih untuk mewakili sekolah dalam sebuah lomba seni. Rasa iri yang mendorongnya untuk merusak patung milik Parno. Namun, memang usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Bagaimanapun kebesaran hati Parno bisa memenangkannya. Itu salah satu buku semasa SD yang menyimpan kesan dan kenangan dalam kepala. Beberapa buku lain adalah buku yang dikarang oleh J.S. Badudu. Semua cerita-ceritanya menjadi santapan sehari-hari. Pernah suatu ketika buku yang sedang saya baca direbut oleh kakak dan menjadi pangkal pertengkaran, sampai akhirnya buku itu dipotong-potong oleh bapak dan kemudian dibakar pada tungku yang kebetulan sedang menyala-nyala. Rasa sakit hati masih bersarang tentunya sampai sekarang. Sebab, selain karena itu memang sebuah buku, lain halnya karena buku itu hasil pinjaman dan masih baru. 

Beranjak ke masa SMP keakraban saya pada buku naik pada level berikutnya. Selain membaca buku-buku di perpustakaan sekolah, saya memanfaatkan kartu keanggotaan adik di perpustakaan umum untuk meminjam beberapa buku lain yang tidak dikoleksi oleh sekolah. Semasa SMP saya bisa menyelesaikan membaca karya-karya Habiburrahman El Shirazy yang saat itu sedang booming. KCB alias Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 saya selesaikan bergantian berlomba dengan waktu peminjaman yang terbatas hanya di tiga hari. Berikutnya saya menyelesaikan bacaan karya-karya Pak Cik Andrea Hirata. Awalnya bacanya Edensor dulu sih, karena bukunya memang dibeli oleh kakak. Setelahnya, saya lanjutkan membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan seri terakhir dari tetralogi; Maryamah Karpov yang cukup tertatih-tatih karena memang ketebalan buku yang lebih wow dari ketiga buku sebelumnya. Selain seri buku Habiburrahman dan Andrea Hirata, saya sempat juga menyelesaikan buku-buku Tere Liye: Hafalan Sholat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah yang kubaca dengan air mata berderai-derai. Sepertinya tulisan-tulisan macam Pak Cik dan Bang Tere ini tipe tulisan yang tidak bisa dilewatkan untuk karya-karya selanjutnya. Oh, ya di masa SMP juga saya beberapa kali curi-curi waktu ke kamar kakak hanya untuk numpang baca Cinta Suci Zahrana. Haha. 

Masih di masa SMP, saya juga memiliki bacaan yang mengesankan. Dua di antaranya adalah Negeri Awan Merah dan Nafsul Mutmainah. 

Negeri Awan Merah adalah buku fiksi anak-anak yang secara ringkas mengisahkan seorang anak yang merasa marah kepada ibunya karena suatu hal lalu berniat menyembunyikan diri. Saat menyembunyikan diri nyatanya dia masuk ke dunia fiksi dan huru hara yang sedang terjadi di dalamnya. Tentunya kisah di Negeri Awan Merah ini sarat dengan nilai moral. 

Sementara itu, Nafsul Mutmainah mengisahkan tokoh orang dewasa yang berusaha menjaga hati. Yang paling saya ingat dari novel ini adalah tokoh Yumna yang memendam perasaan pada seorang laki-laki, namun harus menahan diri dan bahkan sampai akhir cerita kalau tidak salah hubungan mereka tidak berhasil. Entah sih saya benar memahaminya begitu atau tidak. Yang pasti saya masih ingat kalau ending cerita membuat saya sedikit kecewa, lebih karena saya tidak menyukai sad ending. Hehe.

Masa akhir SMP menuju SMA saya masih rajin-rajinnya menyelesaikan banyak bacaan lain; seri Narnia misalnya. Ini adalah buku yang sering saya baca berulang karena memang kisahnya menarik. Bahkan meski sudah menonton filmnya (film buku 1 dan 2), saya tetap merasa senang untuk mengulang seri bacaan yang diperuntukkan untuk anak-anak ini. Menurut saya C.S. Lewis benar-benar bisa membuat kisah yang pas untuk anak-anak. Oh, iya saya baca versi terjemahannya, ya. Bukan versi Englishnya. Hehe.

Semasa SMA saya mengisi sela-sela waktu dengan membaca buku apa saja yang ditemukan di perpustakaan sekolah. Saya ingat seringkali membaca buku-buku Toha Nasrudin. Bacaan nonfiksi sih kalau tidak salah ingat. Buku-buku beliau erat kaitannya dengan norma-norma keislaman. Setiap membaca buku-buku beliau, saya merasa keharuan sebab memang banyak ketentuan Islam yang seringkali dilanggar terutama dalam kategori pergaulan. Namun, tentunya Allah yang Maha Penyayang selalu memberikan banyak kesempatan kepada hamba-Nya untuk memperbaiki. Buku yang memberikan ketentraman. Hehe.

Masih di masa SMA, saya sering juga dicekoki buku-buku Salim A. Fillah oleh kakak saya. Buku-buku yang kalau saya simpulkan secara dangkal semua bukunya berakhir pada: pernikahan. Haha. Sayangnya, saya temasuk tipe manusia yang masih belum mau terbuka kalau diajak ngobrol banyak tentang itu. 

Oh, iya di masa SMA juga saya punya buku yang sering saya bawa-bawa. Sebuah buku kecil berisi banyak doa-doa. Di masa SMA ini tingkat kepercayaan diri saya menurun drastis digantikan dengan tingkat kecemasan yang semakin meningkat. Karena itu salah satu solusi yang saya lakukan untuk mengurangi tingkat kecemasan adalah membawa buku doa ke mana-mana yang diharapkan bisa membantu banyak di kala saya merasa ketakutan dan lupa harus membaca doa apa. 

Di masa SMA saya sebenarnya masih membiasakan diri membaca di mana pun. Hanya saja seiring tingkat kecemasan yang meningkat, tingkat keakraban dengan kegiatan membaca pun mulai memudar. Rasa-rasanya ingatan saya setelah membaca sesuatu tak sebaik masa SD dan SMP. Belum lagi rasa insecure yang mulai melanda karena berada dalam kelompok orang-orang cerdas. Dipikir-pikir berada dalam kumpulan orang cerdas memang tak nyaman. Haha. Bukan berarti aku bodoh, namun sebab tingkat percaya diriku yang semakin menipis, maka ketakutanku menjadi lebih besar di setiap harinya. Jadi alih-alih bisa menjadi diri sendiri, saya malah sibuk mencari titik aman dan tersembunyi. 

Lalu masa-masa putih abu pun usai. Hehe.

Dengan segala perjuangan ini itu saya akhirnya menjadi mahasiswa. Dengan biaya bantuan program pemerintah, tentunya. Status mahasiswa masih membuat saya tidak yakin di masa semester-semester awal. Seringkali saya merasa ketakutan saat dosen sudah melakukan kegiatan wajib; memanggil nama-nama mahasiswa di awal semester. Saya sering merasa takut kalau-kalau nama saya tidak ada di daftar. Haha. 

Nah, di masa kuliah ini saya sebenarnya sangat-sangat senang mengetahui universitas tempat kuliahku memiliki perpustakaan yang besaaaaaaaar. Banyak sekali koleksi buku di sana. Sayangnya, manajemen waktu saya sedikit rumit. Jadi, kesempatan untuk mengakrabkan diri dengan buku-buku seringkali terjeda bahkan terbengkalai. Dipikir-pikir saat itu saya mahasiswa yang kurang memanfaatkan waktu. Ah, sedihnya. 

Yang saya ingat dari masa kuliah, buku-buku yang sering saya pinjam adalah buku-buku yang berkaitan dengan mata kuliah. Ya semacam buku linguistik, fonologi, sintaksis, semantik, dan sejenisnya. Membaca novel hanya dilakukan untuk memenuhi tugas-tugas mata kuliah membaca. Selebihnya saya ngapain ya? Haha. Duh, kok saya jadi lupa masa-masa itu, ya? Hm.

Oh, ya masa kuliah dengan adanya uang saku dari program bantuan pemerintah, sebagiannya sering saya alokasikan untuk membeli buku. Masa kuliah yang mengenalkanku pada Gramedia, Rumah Buku (sekarang sudah gak ada lagi sih), dan Palasari (tapi ini tidak direkomendasikan, ya. Hehe) membuat saya kalap dengan yang namanya buku. Sayangnya, lagi-lagi sayangnya saya belum peduli dengan pilihan. Saya masih ada di jajaran manusia yang pokoknya beli aja dulu. Haha. Jadi, buku yang saya beli masih random. Belum memikirkan isi, penulis, penerbit, dan lainnya. Meski ya semua buku yang dibeli lumayan bagus kok. 

Nah, mari kita bahas buku-buku yang pernah saya beli. 

Satu, IF. ini metropop pertama yang saya baca. Metropop yang ngeselin-super ngeselin. Lagi-lagi karena saya tidak suka sad ending. Saya baca metropop karya Evi Ervianti ini sambil nangis berdarah-darah. Asli loh. Bagiku isi ceritanya benar-benar membuat saya sedih. Sampai-sampai saya membaca ulang kisah cerita ini sambil memutar lagu Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu, yang kemudian membuat derai air mata semakin deras. Wahahaha. Ya, sebenarnya saya sangat menghayati kesedihan sih. 

Dua, sebenarnya saya tidak terlalu ingat sih buku kedua yang saya beli. Jadi, mari kita lupakan masalah urutan ya. Baiknya saya gunakan kata berikutnya saja.

Berikutnya ada buku Tasaro GK berjudul Samita. Ini juga buku yang membuat saya sedih. Duh, saya ini jiwanya melankolis sih. Namun berbeda kesedihan saya di buku Samita dengan metropop IF. Sebab saya merasa sedih dan kecewa, maka saya menulis lanjutan sendiri di halaman kosong belakang buku itu. Lanjutan menurut saya sendiri. Wahaha. Lucunya lanjutan dan ending yang saya buat dibaca juga sama kakak dan adik yang pinjam buku itu dan mereka setuju. Iya, serius.

Berikutnya masih dari Tasaro GK ada Nibiru yang merupakan cerita fiksi. Menurut saya buku ini sulit dibaca, terutama karena kata-kata yang sebagian besarnya entah dari bahasa apa. Lupa sih. Intinya saya tercengang dengan ending ceritanya karena tidak menyangka. Secara keseluruhan buku tebal Nibiru keren deh. Saking tebalnya bisa dipeluk atau bisa dijadikan bantal. Eh, itu karena aku suka sama bukunya, ya. Hehe.

Berikutnya ada buku dari Ayu Utami (bukunya sekarang saya beri selotip karena khawatir dibaca oleh adik atau kakak dan cemas dengan reaksi mereka, haha). Dan karena saya merasa khawatir, saya hanya akan memberi tahu judulnya saja, ya. Buku yang saya beli itu Manjali dan Cakrabirawa. Buku yang tenyata merupakan seri dari Bilangan Fu. Sudah, begitu saja.

Berikutnya ada kumpulan puisi Kahlil Gibran, Yanti Soeparmo (Runtuhnya Menara Azan), buku sejarah Pangeran Diponegoro, buku terjemahan Jepang tentang samurai, kumpulan cerpen Putu Fajar Arcana, bukunya Sungging Raga (cerpen-cerpennya sering saya baca semasa kuliah sih), bukunya Resti Dahlan, Ghina Amanda (yang paling saya suka Matryoska dan Fuurin), buku terbitan IceCube, Tantri: Perempuan yang Bercerita-nya Cok Sawitri, dan masih banyak lagi buku-buku random masa kekalapan yang sudah saya beli dan perlu saya cek ulang di lemari.

Berikutnya, masa-masa selepas kuliah, saya masih menyempatkan beli beberapa buku secara berkala dan tentunya lebih selektif. Bukunya Kuntowijoyo Khotbah di Atas Bukit, buku-bukunya Arafat Nur, buku cerpen terjemahan dari para penulis Amerika, dan beberapa buku lain yang saya beli di Festival Buku semasa di Pangkalpinang.

Oh, iya saat di Pangkalpinang saya juga sempat berkunjung ke Gramedia Pangkapinang, dan mengadopsi Sirkus Pohon-Andrea Hirata. Novel dengan warna putih di cover depan, hitam di cover belakang. Saya nostalgia dengan gaya menulis Andrea Hirata yang selalu menyenangkan. Sirkus Pohon ini, awalnya saya tak bisa memahami apa inti ceritanya. Maklum, saat di sana saya membaca tergesa-gesa. Barulah di kesempatan kedua saya membaca dengan lebih tenang di masa liburan, saya baru bisa memahami dan mengangguk-angguk sembari tercengang. Waaaah, saya gereget dan tak menyangka sebuah ending yang membuat saya berpikir tentang karakter orang di kehidupan nyata. Intinya saya selalu merasa senang dengan karya-karya Pak Cik ini. 

Kembali ke Bandung, setelah mendapatkan lagi rupiah dari hasil mengajar, berburu buku masih menjadi keinginan yang menggebu. Hanya saja sekarang sudah lebih tertuju. Buku-bukunya Titi Sanaria, Almira Bastari, dan Soraya Nasution. Ya, meski sesungguhnya saya masih sering tergoda untuk membeli buku-buku lain. Misalnya buku Faisal Odang, buku dengan cover hijau merah berjudul Tiba Sebelum Berangkat --buku yang kemudian saya coba kirim ke seseorang yang dulunya teman sekelas masa kuliah-- karena ternyata saya tak tahan untuk membaca buku itu. Saya juga membeli buku-buku kepenulisan yang seringnya belum dibaca sampai tuntas. Buku Semua Ikan di Langit-- bukunya sang juara DKJ 2016-- yang juga masih dibaca setengah jalan karena berbagai hal. Ada lagi buku Tasaro berjudul Patah Hati di Tanah Suci-- yang kemudian enggan saya baca karena ternyata itu kisah nonfiksi. Haha. Maaf.

Selain berburu buku menggunakan rupiah sendiri, saya juga mencari cara lain membaca buku secara gratis tetapi legal. Keberadaan ipusnas mewujudkan cara itu. Saya membaca karya-karya Ilana Tan, AliaZalea, dan beberapa penulis populer lain yang semakin lama semakin membuat saya suka-suka-suka membaca. Selain ipusnas, saya juga mengenal GPB alias Google Play Book baru-baru ini. Jadi, selain mengoleksi buku secara nyata, saya juga mengoleksi buku-buku secara maya. Ada alasan tersendiri di masa kini saya memilih buku online daripada offline. Pertama, tempat saya menyimpan buku yang semakin sulit. Buku-buku yang saya simpan semakin lama semakin tak terawat. Karena itu saya harus berpikir ulang saat akan membeli buku baru. Kedua, saya terlalu posesif. Jadi, bila ada yang melihat dan mengetahui saya punya banyak buku, lalu orang itu tertarik meminjam buku maka saya dengan terpaksa harus memimjamkan. Parahnya, orang yang minjem ini gak tahu diri. Buku yang dipinjem gak balik-balik, kan saya jadi badmood. Dengan dua alasan itu, saya sedang berpikir bahwa mengoleksi buku online bisa menjadi sebuah alternatif. Mengoleksi buku online bisa menjadi sebuah kepraktisan hidup. Bisa membawa buku ke mana-mana tanpa perlu ruang, bisa dibaca kapan saja di mana saja, bisa disembunyikan dari predator peminjam buku yang gak tahu diri. Haha. 

Meski begitu, saya masih berharap di esok hari saya bisa segera memiliki rumah, membangun satu ruangan sebagai perpustakaan, memindahkan dan merapikan semua koleksi buku yang saya punya agar bisa tertata. Semoga harapan itu bisa segera terkabul. 

Oke, sampai jumpa di tulisan berikutnya! 

*ilustrasi diambil dari png

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengadilan Anak. Pengadilan untuk pelaku kriminal yang dilakukan anak di bawah umur. Hakim Sim Eun-sok adalah hakim yang ditugaskan di sebua...